Adakah orang tahu
Mimpi terburuk di tanah lahirku
Ketika kami berlari,berjerit,berdoa
Aku menengadah tangan mengiba-iba
Tuhan jangan buat kami celaka
Inikah namanya prahara bagi orang yang berdosa
Tapi kami ini anak kecil tak berdaya
Kami tak sanggup ada beban dimana-mana
Kami tak kuasa ada kematian di sini dan di sana
Kami tak tahu dosa ibu bapak yang kami selalu cinta
Dan airmata kami di minang yang lengang takan pernah terganti
Meski ada uang dari bapak pemelihara bangsa
Meski ada susu dari bapak-bapak pengusaha
Karena mereka, bapak, ibu, saudara tercinta
Tak kembali meski diefakuasi
Malam-malam kami gulita
Kami berjalan menggapai-gapai
Tak ada penerang tak ada bangunan layak hunian
Kami di tepi jalan lepaskan malam dengan tangisan
Ini kami si anak Minang
Tak pernah kami berdoa kasar
Hingga bencana ini datang
Kamipun tinggal belajar
Untuk melupakan segala kenangan
Saat kami di tengah ibu bapak bercendawan
Menguntai cita, mengukir harapan
Untuk mereguk indahnya masa depan
Dan kini semua bisu tersedu-sedan
Menatap siang seoalah malam
Menyambut pagi dengan tak bermatahari
Kamis, 01 Oktober 2009
Selasa, 07 Juli 2009
SAMPAIKAN PADA LANGIT
aku yang tak dapat menatapmu matahari
namun ingin aku bercengkrama denganmu
sekedar dengar cerita
suka duka kau berbagi cahaya
aku yang tak menatapmu rembulan
namun aku juga ingin sekedar berdendang
tentang indahnya senandungmu kala menidurkan setiap insan
tolong sampaikan pada langit
sebab dia yang berkuasa atas malam dan siang
atas kalian mata hari dan rembulan
kapan aku punya kesempatan
untuk turut berbagi kebahagiaan
pada mereka
manusia, hewan dan tumbuhan
namun ingin aku bercengkrama denganmu
sekedar dengar cerita
suka duka kau berbagi cahaya
aku yang tak menatapmu rembulan
namun aku juga ingin sekedar berdendang
tentang indahnya senandungmu kala menidurkan setiap insan
tolong sampaikan pada langit
sebab dia yang berkuasa atas malam dan siang
atas kalian mata hari dan rembulan
kapan aku punya kesempatan
untuk turut berbagi kebahagiaan
pada mereka
manusia, hewan dan tumbuhan
Senin, 08 Juni 2009
TAK ADA YANG TERSISA
Apalah yang tersisa dari sebuah bangunan hangus
puing-puing tajam, langit menghitam, ataupun kenangan-kenangan suram
bulan di langit malam angkuh berfijar
dia sombong berkata
aku saksi utama perjalanan cinta manusia
padahal dia lupa
saat dia tidur Surya datang sebagai maha raja
dia juga sama sombongnya
dia berkata
aku jauh lebih tahu dari yang lainnya
mereka sibuk sombong berkumpul data-data
padahal tak ada yang tersisa
dari sebuah bangunan cinta buta
puing-puing tajam, langit menghitam, ataupun kenangan-kenangan suram
bulan di langit malam angkuh berfijar
dia sombong berkata
aku saksi utama perjalanan cinta manusia
padahal dia lupa
saat dia tidur Surya datang sebagai maha raja
dia juga sama sombongnya
dia berkata
aku jauh lebih tahu dari yang lainnya
mereka sibuk sombong berkumpul data-data
padahal tak ada yang tersisa
dari sebuah bangunan cinta buta
Sabtu, 24 Januari 2009
KATAKAN PADA YANG TULI
Katakan pada yang tuli,
tentang makna di balik sunyi dan hampa udara,
dia itu tak perlu cemas akan makna yang tak berhasil direngkuhnya,
karena makna dari bibir manis manusia itu kasab artinya,
tiada yang tulus dari seribu kata selain satu atau dua kata semata,
benarkan pak? benar bu?
katakan pada yang tuli,
tentang kemerduan sebuah suara manusia,
itu titipan Tuhan Yang maha Pencipta.
Namun jangan kwatir kau tak dengar di dunia, karena suara manusia yang bersenandung di atas dunia tidak lebih merdu dari bidadari yang melantun pujian atas Nama Yang Esa.
Suara merdu itu akan kita dengar nanti di sudut-sudut terang penghuni syurga,
jangan terpaku kala melihat orang tak tuli bergoyang mengikuti gerak orang yang merdu suara,
sebab kemerduan itu kan berlahan hilang menjadi sebuah keserapahan dan keserakahan,
sesaat pula mereka si pemilik suara kan lupa,
dari mana suaranya terbbentuk, dari mana senandungnya berasal,
dan dia tiada kan sadar, senandung dan suara itu yang dia suguhkan pada manusia lainnya, kan berujung dalam jurang yang terdalam yang takan terhitung kedalamannya.
tentang makna di balik sunyi dan hampa udara,
dia itu tak perlu cemas akan makna yang tak berhasil direngkuhnya,
karena makna dari bibir manis manusia itu kasab artinya,
tiada yang tulus dari seribu kata selain satu atau dua kata semata,
benarkan pak? benar bu?
katakan pada yang tuli,
tentang kemerduan sebuah suara manusia,
itu titipan Tuhan Yang maha Pencipta.
Namun jangan kwatir kau tak dengar di dunia, karena suara manusia yang bersenandung di atas dunia tidak lebih merdu dari bidadari yang melantun pujian atas Nama Yang Esa.
Suara merdu itu akan kita dengar nanti di sudut-sudut terang penghuni syurga,
jangan terpaku kala melihat orang tak tuli bergoyang mengikuti gerak orang yang merdu suara,
sebab kemerduan itu kan berlahan hilang menjadi sebuah keserapahan dan keserakahan,
sesaat pula mereka si pemilik suara kan lupa,
dari mana suaranya terbbentuk, dari mana senandungnya berasal,
dan dia tiada kan sadar, senandung dan suara itu yang dia suguhkan pada manusia lainnya, kan berujung dalam jurang yang terdalam yang takan terhitung kedalamannya.
SETETES DARAH TUK PALESTINA
Duduklah kawanku,
ceritkan padaku tentang apa yang kau dengar, kau lihat, kau tahu, kau fikirkan,
saat bumi Palestina mengerang sakit luarbiasa.
Ya, aku memang tak bisa dengar suara rintih karena telingaku yang tuli,
aku juga tak bisa lihat raut-raut muram dan rumah-rumah mereka yang hancur karena mataku yang buta,
aku juga tak bisa mencium bau daging manusia yang terbakar atau anyir darah mujahidin muda karena hidungku yang tangus,
aku juga tak bisa berdo'a dengan mulutku, karena bibir sumbingku sehingga aku tak bisa ikut berteriak di lapangan memaki zionis yahudi bahkan karena kakiku yang buntung,
aku tak bisa menginjak bendera Israel dan tanganku yang lumpuh, tak bisa mengangkat tinggi bendera Palestin tercinta.
Sungguh, aku bukan orang yang punya kesempatan untuk itu,
aku lumpuh, aku buta, aku tuli, aku tangus, aku sumbing dan aku tak tahu apa-apa.
Tuhan! aku ingin punya selembar sayap untuk membantuku terbang ke istana mujahid yang penuh janji syurga itu,
karena di sana ada mereka yang pertahankan rumahMu yang agung,
karena di sana ada tangan-tangan mungil yang berharap peluk dan cinta saudaranya di bumi-bumi yang lapang,
karena di sana ada janda-janda yang berpangku putra mujahid mulia.
Tetes darah Mu Palestina,
akan aku teguk sebagai energi yang pasti,
sebagai langkah baru yang selama ini aku kasab jalan dan salah lintasan.
Memandang bumimu bagiku memandang syurga bagimu,
dan kami di sini, kami yang buta, tuli, yang tangus dan lumpuh,
kan berbuat dengan hati yang tersisa,
hati kami yang semoga tak terlanjur terluka.
ceritkan padaku tentang apa yang kau dengar, kau lihat, kau tahu, kau fikirkan,
saat bumi Palestina mengerang sakit luarbiasa.
Ya, aku memang tak bisa dengar suara rintih karena telingaku yang tuli,
aku juga tak bisa lihat raut-raut muram dan rumah-rumah mereka yang hancur karena mataku yang buta,
aku juga tak bisa mencium bau daging manusia yang terbakar atau anyir darah mujahidin muda karena hidungku yang tangus,
aku juga tak bisa berdo'a dengan mulutku, karena bibir sumbingku sehingga aku tak bisa ikut berteriak di lapangan memaki zionis yahudi bahkan karena kakiku yang buntung,
aku tak bisa menginjak bendera Israel dan tanganku yang lumpuh, tak bisa mengangkat tinggi bendera Palestin tercinta.
Sungguh, aku bukan orang yang punya kesempatan untuk itu,
aku lumpuh, aku buta, aku tuli, aku tangus, aku sumbing dan aku tak tahu apa-apa.
Tuhan! aku ingin punya selembar sayap untuk membantuku terbang ke istana mujahid yang penuh janji syurga itu,
karena di sana ada mereka yang pertahankan rumahMu yang agung,
karena di sana ada tangan-tangan mungil yang berharap peluk dan cinta saudaranya di bumi-bumi yang lapang,
karena di sana ada janda-janda yang berpangku putra mujahid mulia.
Tetes darah Mu Palestina,
akan aku teguk sebagai energi yang pasti,
sebagai langkah baru yang selama ini aku kasab jalan dan salah lintasan.
Memandang bumimu bagiku memandang syurga bagimu,
dan kami di sini, kami yang buta, tuli, yang tangus dan lumpuh,
kan berbuat dengan hati yang tersisa,
hati kami yang semoga tak terlanjur terluka.
Jumat, 31 Oktober 2008
IBUKU SAYANG
Ibuku sayang
aku mencintaimu
aku mengasihimu
aku kan setia di pangkumu
ibuku sayang
janganlah adakan muram
rinduku kan senyuman
dari ibu terdasyat di bumi dan permukaan
ibuku sayang
janganlah ada lagi sedan berkepanjangan
segala bimbang itu kan segera sirna
saat Tuhan datang dengan janji terindah
kau kan hidup dalam istana keabadian.
aku mencintaimu
aku mengasihimu
aku kan setia di pangkumu
ibuku sayang
janganlah adakan muram
rinduku kan senyuman
dari ibu terdasyat di bumi dan permukaan
ibuku sayang
janganlah ada lagi sedan berkepanjangan
segala bimbang itu kan segera sirna
saat Tuhan datang dengan janji terindah
kau kan hidup dalam istana keabadian.
Rabu, 29 Oktober 2008
INGIN AKU MANGERTI
Betapa inginnya ku mengerti seperuh hati
kala kau terjaga untuk yang pertama
aku di sisimu menatap kelam wajah dunia
bak paruh trenggiling menyapu awan menembus kabut yang hitam
betapa inginnya ku mengerti
tentang asa yang halus mengusik kesadaran mimpi
tentang risau yang bergelembung di udara saat malam tiba
betapa inginnya ku mengerti
sesungguhnya siapa yang kan lebih dulu tersadar dari mimpi
dimana ada cakap yang hangat tampa batas
dimana ada senyum yang sendu tampa sedan atau semu
namun untuk sementara
biarkan aku bercinta
menyisakan malam panjang bersama angan dan kenangan
berpeluk bayangmu dalam kerentaan tangan
berhujan kecupmu di antara hitamnya gelombang samar
kemudian dada dan hati ini kan terbang
menuju kembali sarang yang tak pernah nyaman
bila saja sadar itu datang
kau memang tak ada dalam pelukan
lalu ku akan bernyanyi
dentingkan pula satu melodi
antara rindu cinta dan asa
kan kuukir seumpama pelangi
yang berwarna
yang bernada
yang bercahaya
kala kau terjaga untuk yang pertama
aku di sisimu menatap kelam wajah dunia
bak paruh trenggiling menyapu awan menembus kabut yang hitam
betapa inginnya ku mengerti
tentang asa yang halus mengusik kesadaran mimpi
tentang risau yang bergelembung di udara saat malam tiba
betapa inginnya ku mengerti
sesungguhnya siapa yang kan lebih dulu tersadar dari mimpi
dimana ada cakap yang hangat tampa batas
dimana ada senyum yang sendu tampa sedan atau semu
namun untuk sementara
biarkan aku bercinta
menyisakan malam panjang bersama angan dan kenangan
berpeluk bayangmu dalam kerentaan tangan
berhujan kecupmu di antara hitamnya gelombang samar
kemudian dada dan hati ini kan terbang
menuju kembali sarang yang tak pernah nyaman
bila saja sadar itu datang
kau memang tak ada dalam pelukan
lalu ku akan bernyanyi
dentingkan pula satu melodi
antara rindu cinta dan asa
kan kuukir seumpama pelangi
yang berwarna
yang bernada
yang bercahaya
Langgan:
Entri (Atom)